Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts

Pentingkah Gaya Belajar Siswa ?

November 26, 2012 Add Comment


Kemampuan setiap orang dalam memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Sebagian siswa lebih suka jika belajar dengan cara membaca dari hasil tulisan guru di papan tulis. Tapi, sebagian siswa lain lebih suka menerima materi pelajaran dengan cara guru menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, tidak sedikit siswa yang mempunyai model belajar dengan menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. 


 
Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri. Apa pun cara yang dipilih, gaya belajar menunjukkan mekanisme setiap individu menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika guru bisa memahami perbedaan gaya belajar setiap orang dan memberikan materi pelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswanya akan memberikan hasil yang optimal bagi siswanya (Deporter dan Hernacki dalam www.sscbandung.net ) Ada beberapa pendapat mengenai definisi gaya belajar. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:297), “Gaya adalah sikap atau cara yang khusus”. Dari definisi ini, maka gaya belajar adalah sikap atau cara yang khusus dalam belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Winkel (1996:147), “Gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa”

Sedangkan Nasution (2000:94) menyatakan bahwa “Gaya belajar adalah cara yang konsisten dilakukan oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus dan informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal”.

Gaya belajar ini berkaitan dengan pribadi seseorang yang tentu dipengaruhi oleh pendidikan dan riwayat perkembangannya. Bob Samples (2002: 74) berpendapat bahwa “Gaya belajar adalah kebiasaan yang mencerminkan cara kita memperlakukan pengalaman yang kita peroleh melalui modalitas”. Sedangkan Deporter dan Hernacki (2000:110) mengatakan bahwa “Gaya belajar merupakan kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi”. 

Dari pengertian–pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara belajar yang khas yang merupakan kombinasi dari bagaimana siswa menyerap dan mengatur serta mengolah informasi. Sriyono (1992:4) menggolongkan gaya belajar berdasarkan cara menerima informasi ke dalam 4 tipe, yaitu tipe mendengarkan, tipe penglihatan, tipe merasakan, dan tipe motorik. 

Sedangkan Deporter dan Hernacki (2000:112–113) menggolongkan gaya belajar berdasarkan cara menerima informasi dengan mudah ke dalam 3 tipe, yaitu gaya belajar tipe visual, gaya belajar tipe auditorial, dan gaya belajar tipe kinestetik. Sejalan dengan Bobbi dan Mike, Dryden dan Vos (2001:347) juga menggolongkan gaya belajar berdasarkan cara mudah menyerap informasi ke dalam 3 tipe, yaitu gaya belajar tipe visual, gaya belajar tipe auditorial, dan gaya belajar tipe kinestetik. Sehingga, sesuai dengan pembagian tipe gaya belajar, orang dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu orang bertipe auditorial, visual, dan kinestetik. 

Thomas Amstrong dalam Maya A. Pujiati memilah gaya belajar setiap orang menjadi tiga: visual, auditorial, dan kinestetik (haptik). Mereka yang bergaya belajar visual sangat peka dengan gambar dan sesuatu yang menarik indera penglihatan lainnya. Oleh karena itu, orang bertipe visual akan sangat terbantu belajarnya jika kita banyak mempergunakan gambar atau video. Adapun mereka yang bertipe auditorial, akan sangat tertarik dengan stimulasi yang memancing indra pendengaran: mungkin lagu atau musik/irama. Suara mereka biasanya nyaring dan senang berceloteh. Oleh karena itu, sangat baik bagi orang auditorial untuk memperoleh bantuan berupa kaset berisi lagu atau katakata berirama, dongeng, dan alat-alat stimulasi pendengaran lainnya. Terakhir adalah gaya belajar kinestetik (haptik). Orang kinestetik sangat suka bergerak, dan cara mereka belajar memang membutuhkan unsur gerak fisik. Mereka akan tersiksa jika dipaksa untuk duduk diam saat belajar. Namun, gaya belajar yang satu ini memang masih sulit diterima di sekolah formal yang pasti klasikal (terdiri atas banyak anak di dalam kelas). Biasanya, guru yang tidak mengerti akan memberikan label “nakal” atau “pengganggu” pada mereka. 

Menurut Howard Gardner gaya belajar dapat dikarakteristik menjadi gaya belajar auditorial, visual dan kinestetik. 
Auditorial 
Orang yang memiliki gaya belajar auditorial, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. 

Beberapa ciri seorang auditorial menurut Howard Gardner antara lain : 
1) Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok. 
2) Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV. 
3) Suka berbicara. 
4) Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik. 
5) Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya. 
6) Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis. 
7) Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya. · 

Visual 
Orang yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya mereka memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan. 

Beberapa karakteristik visual menurut Howard Gardner adalah : 
1) Senantiasa melihat, memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya. 
2) Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu. 
3) Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain. 
4) Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan. 
5) Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan. 
6) Biasanya orang yang visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu. 

Kinestetik 
Orang yang memiliki gaya belajar kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian informasi. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta. Mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal belajar yang membolehkannya bermain. 

Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya. Beberapa karakteristiknya menurut Howard Gardner adalah :
1) Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya. 
2) Sulit untuk berdiam diri. 
3) Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan. 
4) Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik. 
5) Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar. 
6) Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit. 

Deporter dan Hernacki (2000:116–118) mengemukakan bahwa orang yang bertipe visual memiliki ciri-ciri : 1) Perilaku rapi dan teratur. 
2) Teliti terhadap detail. 
3) Mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar. 
4) Mengingat dengan asosiasi visual. 
5) Lebih suka membaca daripada dibacakan. 
6) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.
Sejalan dengan tipe visual, siswa yang memiliki gaya belajar tipe penglihatan dapat menerima informasi dengan baik bila ia melihat langsung (Sriyono,1992:4). Orang yang bertipe auditorial mempunyai ciri – ciri : 1) Mudah terganggu oleh keributan. 
2) Menggerakan bibir ketika membaca. 
3) Senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan. 
4) Belajar dengan mendengarkan dan lebih mudah mengingat apa yang didengar daripada yang dilihat. 
5) Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar. 
6) Dapat mengulang kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara. (Deporter dan Hernacki 2000:118) 

Sriyono (1992:4) menyatakan bahwa, “Siswa yang bertipe mendengarkan dapat menerima informasi dengan baik setiap informasi dengan mendengarkan”. Orang yang betipe kinestetik memiliki ciri – ciri : 
1) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak gerak. 
2) Belajar melalui manipulasi dan praktek. 
3) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat. 
4) Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca. 
5) Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama. 
6) Menyukai buku – buku yang berorientasi pada alur /isi. 
7) Ingin melakukan segala sesuatu. (Deporter dan Hernacki 2000:118-120) 

Sriyono (1992:4) menyatakan bahwa, “Siswa yang bertipe motorik akan menerima informasi dengan baik bila ia melakukan sendiri secara langsung”. Dryden dan Vos (2001:355) menyatakan bahwa orang yang bertipe visual lebih mudah menyerap informasi jika menggunakan indra penglihatan, orang yang bertipe auditorial memiliki cirri-ciri tidak suka membaca dan lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi, sedangkan orang yang bertipe kinestetik selalu ingin bergerak. Menurut Nurita Putranti gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. 

Sedangkan menurut Meiky bila kita paham gaya belajar kita, boleh jadi kita lebih pintar dari seharusnya. Dengan demikian, perbedaan gaya belajar matematika mengakibatkan perbedaan prestasi belajar siswa. Prestasi matematika siswa juga dipengaruhi oleh gaya belajar siswa. 

DAFTAR PUSTAKADeporter dan Hernacki. 2000. Quantum Learning : Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Terjemahan Alwiyah Abdurrahman.
Bandung : Kaifa.

Deporter dan Hernacki. Quantum Teaching. www.sscbandung.net. Diakses pada
tanggal 1 Agustus 2012.

Fuad Hasan. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

WS. Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widiasarana.

Samples, Bob. 2002. Revolusi Belajar untuk Anak. Panduan Belajar Sambil
Bermain untuk Membuka Pikiran Anak Anda. Bandung: Kaifa.

Sriyono. 1992. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta : Rineka Cipta.

Drygen, Gordon, Vos, Jeannete. 2001. Revolusi Cara Belajar. Terjemahan Word
++ translation Service. Bandung: Kaifa.

Maya A. Pujiati. Mengamati Gaya Belajar Anak
.http://pustakanilna.com/mengamati-gaya-belajar-anak . Diakses pada
tanggal 20 Mei 2009

Howard Garner. Kenalilah Tipe Gaya Belajar Kita (Learning Style).
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Kenalilah Tipe Gaya
Belajar Kita (Learnin Style) & nomorurut_artikel=213. Diakses pada
tanggal 20 Mei 2009

Tips Khusus Bagi Penulis Ijazah

December 21, 2011 1 Comment

Sudah sejak zaman perjuangan sampai zaman trasformer, penulisan ijazah terutama untuk SD, SMP, SMA, masih secara manual yakni menggunakan tulisan tangan. Blanko ijazah yang disediakan pun tidak melebihi dari jumlah lulusan siswa yang ada, sehingga pada penulisan nantinya tidak boleh ada kesalahan. Apabila terjadi kesalahan, untuk penggantiannya tidak bisa dilakukan dengan mudah, banyak tahapan birokrasi, dan persyaratan untuk mendapatkan pengganti ijazah yang salah tulis, walaupun hanya satu lembar. Biasanya menggunakan surat keterangan dari kepala sekolah yang bersangkutan untuk di antar ke Dinas Kabupaten/Kota untuk selanjutnya di teruskan ke Tingkat Provinsi. Silahkan lihat contoh surat keterangan kesalahan penulisan ijazah ( disini ). Nah, dari kabupaten/kota akan dibuatkan kembali surat keterangan baru untuk disampaikan ke dinas pendidikan tingkat provinsi.

Hal semacam ini menjadi beban berat bagi penulis ijazah, ini pengalaman pribadi...Dalam menulis kita ekstra hati-hati, berikut ini adalah tips bagi guru/kepsek yang mungkin diperlukan ketika akan menulis ijasah :


  1. Untuk menghidari konflik dengan orang tua murid, pastikan sebelum anda mengusulkan daftar nominasi peserta ujian, kira-kira setiap bulan september / nopember, hendaknya anda terlebih dahulu meminta AKTE KELAHIRAN murid yang bersangkutan ( jika ada), sehingga jika ada kesalahan nama beserta identitas lahir siswa tidak terlalu parah.
  2. teliti terlebih dahulu jumlah ijasah yang akan anda tulis sama dengan jumlah nama/murid yang akan dibuatkan ijazahnya.
  3. pastikan nomor seri ijasah sama dengan data murid dan data nilai
  4. bila anda ragu tulis terlebih dahulu menggunakan pensil agar dapat mengurangi resiko kesalahan menulis.
  5. tulis terlebih dahulu data - data umum di ijasah, seperti nama sekolah, nama kepala sekolah, tanggal dll
  6. setelah semua ijasah telah ditulisi data - data umum baru kemudian data khusus seperti nama murid tgl.lhr dll
  7. pastikan data nilai dibelakang ijasah sama dengan data yang ada
  8. apabila capek, mengantuk dan badan kurang fit jangan tergesa-gesa menulis ijasah dahulu, beristirahatlah agar badan menjadi fit kembali
  9. apabila telah terjadi kesalahan menulis berhentilah dahulu sejenak untuk beristirahat, karena apabila dilanjutkan malah akan berakibat fatal.
  10. jangan mengoreksi langsung pada tulisan yang salah (dibiarkan saja) tulis kembali data - data yang lain saja. Minta blanko ijazah baru seperti langkah yang dijelaskan di bagian awal posting ini. Jika anda tidak mendapatkan blangko ijazah baru, maka siapkan mental Anda untuk mencoba mengorek-ngorek dengan sangat hati-hati menggunakan pisau silet yang tipis dan tajam ( gunakan kaca pembesar).
  11. Apabila kesalahan baru terlihat ketika telah di laminating, maka tidak ada jalan lain lagi selain minta blanko ijazah baru atau meminta surat keterangan dari dinas pendidikan kabupaten setempat.
  12. selamat bekerja.....

Inpassing Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS)

December 15, 2011 1 Comment

Inpassing Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS) adalah proses penyesuaian kepangkatan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dengan kepangkatan Guru Pegawai Negeri Sipil. Inpassing Jabatan Fungsional GBPNS dan Angka Kreditnya ditetapkan berdasarkan dua hal, yaitu kualifikasi akademik dan masa kerja yang dihitung mulai dari pengangkatan atau penugasan sebagai GBPNS pada satuan pendidikan.

Manfaat GBPNS yang telah memiliki SK Inpassing adalah bila sudah lulus sertifikasi akan mendapatkan tunjangan profesi yang besarnya sesuai dengan gaji pokok golongan yang tertulis pada sk inpassing.

Untuk mengajukan sk inpassing GBPNS harus memenuhi syarat usul sk inpassing. Penetapan jabatan fungsional GBPNS dan angka kreditnya, bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekaligus demi tertib administrasi GBPNS.

Bila usulan sudah dikirim, perlu dipantau: kontak ke Kantor Dinas Pendidikan atau usaha mandiri secara online. Untuk memantau secara online, ada dua jalan:


Selain itu untuk mengetahui SK Impasing dan tunjangan profesi, dapat melalui sms.

Berikut sms gateway untuk melihat SK Inpassing dan Tunjangan Profesi jenjang Pendidikan Dasar.

Untuk mengetahui tunjangan profesi, kata kunci yang dapat digunakan adalah NRG, NUPTK, atau Nomor Peserta Sertifikasi. Sedangkan untuk mengetahui SK Inpassing Guru Bukan PNS, kata kuncinya hanya NUPTK.


Untuk pengusulan, melewati beberapa tahapan dan persyaratan. Untuk pengusulan SK Impasing ini tidak akan kami jelaskan, karena sesuai Permendiknas nomor 22/2010, batas akhir penetapan SK Inpassing adalah 30 Desember 2011. Oleh karena itu, bagi yang belum pernah mengusulkan agar segera mengusulkan dengan syarat dan prosedurnya. Nah, untuk contoh formar usulannya beserta ketentuannya, dapat anda unduh di bawah ini :

Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS

Permendiknas 22/2010: Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS

Permendiknas 72/2008: Tunjangan Profesi GTT Bukan PNS

Berkas Usulan

Sumber : Kemendiknas.go.id - Google

Buku Vs Komputer !!!

October 27, 2011 3 Comments

Aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku akan memiliki pilihan yang diajarkan oleh sarana komputer di sekolah, atau buku adalah sarana pilihan terbaik? Aku mendapat jawaban positif yang menegaskan untuk diriku sendiri, pentingnya sebuah buku. Tapi pernahkah kita menanyakan hal ini kepada para siswa hari ini? Apa jawab mereka? Mereka terlihat lebih memilih komputer. Beberapa merasa lebih mudah untuk membaca dari layar daripada sebuah buku yang tebal. Beberapa diantara kita mungkin berpikir bahwa mesin membuat proses membaca lebih bersahabat (user-friendly). Kita lihat fakta yang ada sekarang, masih ada beberapa individu, yang tidak suka membaca dari komputer dan lebih memilih untuk membaca buku. Secara keseluruhan, ada pandangan yang beragam pada topik dan ide dari pengajaran komputer dan mengajar dari buku, masing-masing memiliki alasanya sendiri.

Teknologi adalah kebutuhan hari dan juga sangat diperlukan di mana-mana. Teknologi telah terbukti bermanfaat dalam semua bidang kehidupan. Salah satunya adalah komputer. Komputer telah merevolusi kehidupan orang biasa dan telah membawa perubahan dramatis dalam kehidupan setiap manusia. Lihat dulu sejarah komputer - . Informasi yang tersedia berlimpah di Internet yang dapat dibaca dengan menggunakan sarana komputer. Oleh karena itu seseorang tidak mungkin ingin lepas dari dunia informasi baru ini ketika mereka telah mengenalnnya . Informasi ini termasuk semua aspek pengetahuan. Hal ini berkisar dari fakta-fakta awal dalam ilmu pengetahuan untuk filsafat hidup. Hampir segala sesuatu yang pernah dituliskan kedalam buku-buku sekarang dapat diakses melalui komputer. Segala sesuatu yang telah tercatat dalam sebuha buku kini dapat di baca hanya dengan sekali klik!

Buku teks telah menjadi bagian integral dari pendidikan sejak lama. Dari tahun ke tahun, sekolah melakukan proses belajar mengajar dari buku teks yang telah ditentukan dan menerapkan apa yang dipelajari tersebut, baik untuk tes kelas dan ujian-ujian penting. Spesialisasi selalu tenggelam dalam buku pelajaran dan buku referensi. Sesekali, mengajar komputer juga dilengkapi dengan buku. Tapi hari ini gambaran telah berubah. Kami tidak melihat buku melanda tahun-tahun edukatif. Mengajar komputer memainkan peran utama dalam pendidikan saat ini.

Banyak hal dalam pengajaran dapat dilakukan secara sederhana oleh komputer. Jika informasi bagi siswa dilengkapi dengan antarmuka yang menarik, dapat mengakibatkan korespondensi dari pembaca lebih tinggi. Font ( huruf) yang mempunyai gaya yang berbeda, warna dan ukuran yang disediakan oleh perangkat lunak komputer memungkinkan kemudahan dalam membaca dan memahami konten bacaan. Konten hidup pada komputer lebih menarik daripada buku teks yang memiliki gambar, warna dan animasi yang tidak hidup.

Informasi dapat disajikan dalam bentuk yang berbeda dari komputer. Informasi dapat dalam bentuk rekaman audio atau klip video, sehingga jauh lebih dari sekedar membuat siswa membaca dari layar. Hal ini juga terkait tentang sistem pembelajaran dimana mereka dapat melihat gambar, menonton video dan mendengarkan pidato atau ceramah lebih efektif, menarik dan interaktif.

Akhir-akhir dekade saat ini, muncul kekhawatiran perubahan iklim yang diakibatkan oleh penggunaan kertas sebagai media penyampaian informasi. Kertas berasal dari kayu yang umumnya didapat dari penebangan hutan. Komputer menjadi salah satu fasilitas besar yang mungkin dapat menagatasi hal ini, seperti menghemat kertas dan mengoptimalkan penyimpanan informasi. Untuk membuat penjelasan yang rumit pada sebuah topik, buku mengambil banyak halaman, sehingga memberikan kontribusi untuk jumlah yang tinggi dari penggunaan kertas. Namun berbeda dengan penggunaan komputer. Informasi dapat disimpan dalam bentuk kental dan padat pada sistem komputer, sehingga menghemat kertas dan lingkungan! Kapasitas penyimpanan yang tinggi dari perangkat elektronik ini dapat dimanfaatkan untuk gudang informasi. Perangkat memori elektronik ini bisa dihapus dan dapat digunakan berulang kali. Ini meminimalkan redundansi kertas.

Mengajar komputer dapat menanamkan gagasan tentang self-studi pada siswa. Hal ini dapat membantu mereka menjadi mandiri. Mengajar Komputer memperkenalkan siswa ke dunia pengetahuan baru, membuat jalan untuk teknologi baru untuk menjadi bagian dari pendidikan mereka.

Dalam pandangan saya, komputer dapat menjadi bantuan yang brilian untuk mengajar. Sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi untuk pendidikan, tetapi buku-buku pelajaran tidak pernah bisa lepas dari kegiatan ini. Harta yang terlampir dalam buku teks masih dari utilitas besar. Menyimpan informasi dalam buku teks memang menjadi bagian dari pengajaran. Hal ini disebabkan karena buku merupakan media pematenan sumber informasi yang kita baca karena jika tercatat dalam sebuah buku maka referensi tersebut telah memiliki kekuatan hukum yang tetap. Komputer dapat menggantikan buku pelajaran sampai batas tertentu. Tetapi komponen manusia tidak memiliki subsitusi terbatas. Dalam setiap bentuk mengajar, guru tak dapat digantikan oleh bentuk teknologi apapun. Ini jelas, karena guru memiliki emosi yang dapat mendekatkan para siswa dengan apa yang sedang mereka pelajari.

Maka jadikanlah diri kita sendiri sebagai media pengajaran !!!


Manali Oak - Author in www.buzzle.com

Simulasi Penilain Kinerja Guru ( PKG) 2013 Excel

October 26, 2011 3 Comments

Education is a fundamental human right: Every child is entitled to it. It is critical to our development as individuals and as societies, and it helps pave the way to a successful and productive future. ( UNICEF-12 July 2011).

Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia: Setiap anak berhak untuk itu. Hal ini penting untuk perkembangan kita sebagai individu dan sebagai masyarakat, dan membantu membuka jalan untuk masa depan yang sukses dan produktif.
Wah, ga kerasa udah berlama-lama tidak membuat tulisan nih. Seperti kutipan diatas yang diambil dari web UNICEF mengatakan bahwa pada dasarnya pendidikan adalah membantu membuka jalan untuk masa depan yang sukses dan produktif. Dalam KTSP pun juga demikian. Nah, sekarang mulai lagi dengan problem dan tugas yang baru, yang mungkin tidak semua guru tahu tetang hal ini. Empat Pilar pendidikan juga ditetangkan oleh UNESCO yaitu :
  1. Learning to know : Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How
  2. Learning to do : Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
  3. Learning to be : belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
  4. Learning to live together : Belajar memhami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.

Nah, untuk meningkatkan kinerja guru yang memungkinkan seluruh landasan diatas serta landasan berdasarkan Undang-Undang yang berlaku di negeri ini maka pemerintah menggalangkan sistem penilaian baru terhadap Kualitas seorang guru. Mungkin anda telah mendengan tentang PKG ( Penilaian Kinerja Guru ). Penilaian kinerja Guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya. Hal ini terkait dengan PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 35 TAHUN 2010. Permen ini berlaku efektif mulai 1 Januari 2013 ( Wah masih lama ya, santai dlu ahhh), Weitsssssssss, jangan santai santai dulu pak ya. Berbeda dengan Penetapan Angka Kredit yang selama ini kita lakukan, Guru mampu mengusulkan Naik Tingkat setelah kurang lebih 2 tahun (4-5 semester) tanpa banyak melakukan Pengembangan Keprofesian. Nah sekarang, pada Permen ini, guru hanya bisa naik tingkat setelah 4 tahun ( 8 semester) Jika hanya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas saja tanpa banyak melakukan Pengembangan Keprofesian. Itu semua berlaku mulai tanggal 1 Januari 2013 untuk Gol. III/a keatas. Untuk guru Golongan II/a-II/d menggunakan pasal 38 tentang Ketentuan Peralihan yang didalamnya masih menggunakan penilaian berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993.

Untuk mencoba sistem penilaian tersebut maka admin mencoba membuat simulasi penilaian kinerja Guru serta Format DUPAK untuk tahun 2013 mendatang. Silahkan download formatnya dalam file microsoft excel , contoh serta PERMEN nya dibawah ini.

Permen Pendidikan.zip ( 1,8 Mb)
Penilaian Kinerja Guru 2013 (excel).zip ( 2,4 Mb)
Contoh Latihan Penilaian Kinerja Guru (0,2 Mb) - Indikator 6