Showing posts with label Pendekatan. Show all posts
Showing posts with label Pendekatan. Show all posts

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik Serta Penerapannya

December 12, 2011 Add Comment

A. Kelebihan dan Kelemahan
1) Kelebihan pembelajaran matematika realistik antara lain :
a) Karena membangun sendiri pengetahuannya, maka siswa tidak pernah lupa.
b) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan, sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika.
c) Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka, karena sikap belajar siswa ada nilainya.
d) Memupuk kerjasama dalam kelompok.
e) Melatih keberanian siswa karena siswa harus menjelaskan jawabannya.
f) Melatih siswa untuk terbiasa berfikir dan mengemukakan pendapat.
g) Mendidik budi pekerti.


2) Kelemahan pembelajaran matematika realistik antara lain :
a) Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menentukan sendiri jawabannya
b) Membutuhkan waktu yang lama.
c) Siswa yang pandai kadang tidak sabar menanti jawabannya terhadap teman yang belum selesai
d) Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu
e) Belum ada pedoman penilaian sehingga guru merasa kesal dalam evaluasi/memberi nilai.
(www. google. RME. co. id)


B. Penerapan Pendekatan Matematika Realistik dalam Pembelajaran Perkalian


Perkalian adalah penjumlahan yang berulang sebanyak “n” dan berlaku sifat komutatif dan asosiatif. Menurut David Glover (2006:20). materi perkalian materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau sudah disajikan dalam soal cerita seringkali siswa mengalami kesulitan.


Untuk itu guru harus mampu menemukan suatu cara agar bisa membawa siswa lebih mudah dalam penanaman konsep materi tesebut dengan membawa anak ke situasi permasalahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari yang sering dialami siswa, misalnya dalam penanaman konsep perkalian, dengan cara guru mengajukan pertanyaan, “ 3 ekor ayam, kakinya ada berapa ?” Dengan masalah seperti ini, jawaban anak diharapkan akan bermacam-macam. Salah satunya adalah banyaknya kaki ayam adalah 2 + 2 + 2. Jika tidak ada yang menyatakan dengan 3 x 2, maka kita dapat mengenalkan tentang notasi atau lambang atau konsep perkalian, yaitu 3 x 2. Jadi, dengan pertanyaan tadi diharapkan siswa dapat membangun atau mengkontruksikan pengetahuannya sendiri. Dari jawaban pertanyaan itu dimunculkan konsep perkalian. Jadi, bukan guru yang langsung mengumumkan, namun siswa yang mendapatkan arti 3 x 2.

Pembelajaran dengan pendekatan realistik adalah suatu konsep pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata yang dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri. Masalah konteks nyata merupakan bagian inti dan dijadikan sebagai starting point dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik ini.

Dengan demikian pembelajaran realistik merupakan suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Konsepsi dan Langkah-langkah Pendekatan Matematika Realistik

December 12, 2011 Add Comment


A. Konsepsi Pendekatan Matematika Realistik
Menurut Sutarto Hadi (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008) mengemukakan beberapa konsepsi pendekatan matematika realistik tentang siswa, guru, dan pembelajaran.


1) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang siswa adalah sebagai berikut:
a) Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
b) Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;
c) Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali dan penolakan;
d) Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;
e) Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematika.


2) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang guru adalah sebagai berikut:
a) Guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran;
b) Guru harus mampu membangun pembelajaran yang interaktif;
c) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif terlibat pada proses pembelajaran dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
d) Guru tidak terpancang pada materi yang ada di dalam kurikulum, tetapi aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.


3) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang pembelajaran matematika meliputi aspek- aspek berikut:
a) Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang ‟riil‟ bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.
b) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut;
c) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/permasalahan yang diajukan;
d) Pembelajaran berlangsung secara interaktif. Siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran (http: //p4tkmatematika.org/../ matematika-sd/).

B. Langkah-Langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Supinah dan Agus D.W (2008), langkah-langkah pembelajaran matematika realistik adalah sebagai berikut :
1) Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang real bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.
2) Permasalahan yang diberikan harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.
3) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/permasalahan yang diajukan.
4) Pembelajaran berlangsung secara interaktif, siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).


Sedangkan menurut Nyimas Aisyah, dkk (2007: 7.27), langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yaitu :
1) Persiapan
a) Menentukan masalah kontekstual yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.
b) Mempersiapkan model atau alat peraga yang dibutuhkan.


2) Pembukaan
a) Memperkenalkan masalah kontekstual kepada siswa.
b) Meminta siswa menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.

3) Proses Pembelajaran

a) Memperhatikan kegiatan siswa baik secara individu ataupun kelompok.
b) Memberi bantuan jika diperlukan.
c) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyajikan hasil kerja mereka dan mengomentari hasil kerja temannya.
d) Mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik untuk menyelesaikan masalah.
e) Mengarahkan siswa untuk menentukan aturan atau prinsip yang bersifat umum.

4) Penutup
a) Mengajak siswa menarik kesimpulan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari.
b) Memberi evaluasi berupa soal matematika dan pekerjaan rumah.



Ciri-ciri dan Prinsip RME - Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik / Realistic Mathematic Education (RME)( Bagian - 2 )

December 12, 2011 Add Comment

A. Ciri - Ciri RME ( Realistic Mathematic Education)

Pada psoting sebelumnya kita telah berkenalan dengan RME, namun jika belum kenal maka anda dapat berkenalan disini : Realistic Mathematic Education (RME)

Menurut Supinah dan Agus D.W (2008), Pendidikan Matematika- Realistik Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Menggunakan masalah kontekstual,
yaitu matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah kontekstual yang realistik bagi siswa) merupakan bagian yang sangat penting.


2) Menggunakan model,
yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan alat matematis hasil matematisasi horisontal.


3) Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri,
yaitu siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematis, di bawah bimbingan guru.


4) Pembelajaran terfokus pada siswa 5) Terjadi interaksi antara murid dan guru,
yaitu aktivitas belajar meliputi kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).


Nyimas Aisyah, dkk (2007: 7.18-7.19), juga menyatakan bahwa pendekatan matematika realistik mempunyai karekteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
1) Pembelajaran harus dimulai dari masalah kontekstual yang diambil dari dunia nyata.
2) Dunia abstrak dan nyata harus dijembatani oleh model.
3) Siswa dapat menggunakan strategi, bahasa, atau symbol mereka sendiri dalam proses mematematikakan dunia mereka. Artinya, siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil kerja mereka dalam menyelesaikan masalah nyata yang diberikan oleh guru.
4) Proses pembelajaran harus interaktif.
5) Hubungan di antara bagian-bagian dalam matematika dengan disiplin ilmu lain, dan dengan masalah dari dunia nyata diperlukan sebagai satu kesatuan yang saling kait mengait dalam penyelesaian masalah.

c. Prinsip RME Menurut Van den Heuvel Panhuizen (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008), prinsip-prinsip dalam pendekatan realistik adalah sebagai berikut :
1) Prinsip aktivitas (Activity Principle)
Matematika adalah aktivitas manusia. Pembelajar harus aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika.
2) Prinsip realitas (Reality Principle)
Pembelajaran matematika dimulai dengan masalah-masalah yang realistik atau dapat dibayangkan oleh siswa.
3) Prinsip berjenjang (Level Principle)
Artinya dalam belajar matematika siswa melewati berbagai jenjang pemahaman, yaitu dari mampu menemukan solusi suatu masalah kontekstual atau realistik secara informal, melalui skematisasi memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar sampai mampu menemukan solusi suatu masalah matematis secara formal.
4) Prinsip jalinan
Artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi terjalin satu sama lain sehingga siswa dapat melihat hubungan antara materi-materi itu secara lebih baik.
5) Prinsip interaksi
Yaitu matematika dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa perlu dan harus diberikan kesempatan menyampaikan strateginya dalam menyelesaikan suatu masalah kepada yang lain untuk ditanggapi, dan menyimak apa yang ditemukan orang lain dan strateginya menemukan itu serta menanggapinya.
6) Prinsip bimbingan ( Guidance Principle)
Yaitu siswa perlu diberi kesempatan terbimbing untuk menemukan pengetahuan matematika (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).
Ciri-ciri dan prinsip RME pada intinya adalah matematika merupakan aktivitas insani. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran. Untuk itu pendidikan matematika harus diarahkan pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali matematika berdasarkan usaha mereka sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Amir. 2007. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: UNS Press.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Barnes, Hayley. 2004. ”Realistic Mathematics Education: Eliciting Alternative Mathematical Conceptions of Learners”. International Journal mathematical in science and Technology. (http://.up.ac.za/dspace/bitstream). Diakses tanggal 22 Januari 2010. Pukul 20.00 WIB
Devrim “Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR. (2006), “Attitudes of 7th Class Students Toward Mathematics in Realistic Mathematics Education”. International Journal of Mathematics education (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Diakses tanggal 28 Februari 2010. Pukul 18.30 WIB
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Glover, David. 2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume 1 A-F (terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
.2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume1G-P(terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
I. G. A. K Wardani. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka
Karso. 2002. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka
Kurikulum KTSP SD/MI 2007
Milles, B. Matthew .2000. Qualitative Data Analisis : Sourcebook of new methods(terjemahan), Beverly hills:Sage publication
Munarsih, Ari. 2008. Upaya Penigkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta.UMS Surakarta.
Spiegel, Murray R. 1996. Matematika Dasar (terjemahan). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Mustaqim & Abdul Wahib. 2003. Psikologi Pandidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1999. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nyimas Aisyah, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.
90
91
Oemar Hamalik. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem .Jakarta: PT. Bumi Aksara
Rodhiyah, 2006. Meningkatkan Kemampuan menyelesaikan Operasi Perkalian dan Pembagian dengan Metode Permainan Pada Siswa Kelas IV SDN Purwoso 03 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi tidak ditebitkan. Semarang UNNES
Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Slamet,St.Y dan Suwarto. 2007. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Slavin, Steve. 2005. Matematika Untuk Sekolah Dasar (terjemahan). Bandung : Pakar Raya.
Sugiyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Suharsimi Arikunto dan Sugiarto. 2009. Peningkatan Profesi Ilmiah Guru melalui Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional. Surakarta: UNS.
Supinah & Agus D.W, 2008. Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/). Diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 09.00 WIB.
Syaiful Sagala. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Soewito.1993. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Dekdikbud Dirjen Dikti Proyek pembinaan Tenaga Kerja.
S. Nasution. 2006. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003
Yatim Rianto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC Surabaya
http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 21.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?eosr=on&q=Hakikat+Belajar+Matematika,diakses tanggal 18 Oktober2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?q=pengertian+pembelajaran&hl/frustanti.html , diakses tanggal 18 Oktober 2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?u=http/www.banjar-.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2009. Pukul 18.30 WIB

Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik / Realistic Mathematic Education (RME)( Bagian - 1 )

December 12, 2011 Add Comment

Belajar matematika adalah suatu proses (aktivitas) berpikir disertai dengan aktivitas afektif dan fisik. Pembelajaran matematika yang ingin dicapai, di antaranya yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses pembelajaran yang dilaksanakan harus melibatkan siswa secara aktif. Sehingga dalam hal ini pemilihan pendekatan kontekstual sangat tepat dalam pembelajaran matematika.

Pembelajaran Matematika Realistik atau Realistic Mathematic Education (RME) merupakan teori pembelajaran matematika yang dikembangkan di Belanda. Teori ini berangkat dari pendapat Fruedenthal bahwa matematika merupakan aktivitas insani dan harus dikaitkan dengan realitas. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang dalam memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran.

Devrim“Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR (2006) dalam International Journal of Mathematics education: RME theory is a promising direction to improve and enhance learners’ understandings in mathematics (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Teori RME merupakan arah yang menjanjikan untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajar di bawah klasemen dalam matematika.

Freudenthal (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008), berpendapat bahwa siswa tidak dapat dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi. Pendidikan matematika harus diarahkan pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali (reinvention) matematika berdasarkan usaha mereka sendiri. Dalam RME, dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. Menurut Blum & Niss (dalam Supinah & Agus D.W, 2008), dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika, atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Supinah dan Agus D. W (2008), menyatakan dengan masalah kontekstual yang diberikan pada awal pembelajaran, dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara yang digunakan atau ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, siswa mulai dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara yang digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda dengan pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar (http: // p4tk matematika. org/../matematika-sd/).

Hayley Barnes (2004) dalam International Journal mathematical in science and Technology:

RME has played a role in eliciting and addressing alternative conceptions of learners in this intervention This has been done firstly through the application of the principle of guided reinvention in the design of contextual problems
(http://.up.ac.za/dspace/bitstream).

RME telah memainkan peran dalam memunculkan dan membahas konsep-konsep alternatif dari peserta didik. Hal ini telah dilakukan terlebih dahulu melalui penerapan prinsip penciptaan kembali dipandu dalam perancangan masalah kontekstual.

Secara garis besar RME adalah suatu teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk matematika, yang bertolak dari masalah-masalah yang realistik dalam kehidupan sehari-hari siswa. Setiap siswa bebas mengemukakan dan mengkomunikasikan ide-idenya tersebut kepada siswa lain. Konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pembelajaran matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman-pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik merupakan pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata yang dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Amir. 2007. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: UNS Press.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Barnes, Hayley. 2004. ”Realistic Mathematics Education: Eliciting Alternative Mathematical Conceptions of Learners”. International Journal mathematical in science and Technology. (http://.up.ac.za/dspace/bitstream). Diakses tanggal 22 Januari 2010. Pukul 20.00 WIB
Devrim “Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR. (2006), “Attitudes of 7th Class Students Toward Mathematics in Realistic Mathematics Education”. International Journal of Mathematics education (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Diakses tanggal 28 Februari 2010. Pukul 18.30 WIB
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Glover, David. 2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume 1 A-F (terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
.2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume1G-P(terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
I. G. A. K Wardani. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka
Karso. 2002. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka
Kurikulum KTSP SD/MI 2007
Milles, B. Matthew .2000. Qualitative Data Analisis : Sourcebook of new methods(terjemahan), Beverly hills:Sage publication
Munarsih, Ari. 2008. Upaya Penigkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta.UMS Surakarta.
Spiegel, Murray R. 1996. Matematika Dasar (terjemahan). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Mustaqim & Abdul Wahib. 2003. Psikologi Pandidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1999. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nyimas Aisyah, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.
90
91
Oemar Hamalik. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem .Jakarta: PT. Bumi Aksara
Rodhiyah, 2006. Meningkatkan Kemampuan menyelesaikan Operasi Perkalian dan Pembagian dengan Metode Permainan Pada Siswa Kelas IV SDN Purwoso 03 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi tidak ditebitkan. Semarang UNNES
Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Slamet,St.Y dan Suwarto. 2007. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Slavin, Steve. 2005. Matematika Untuk Sekolah Dasar (terjemahan). Bandung : Pakar Raya.
Sugiyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Suharsimi Arikunto dan Sugiarto. 2009. Peningkatan Profesi Ilmiah Guru melalui Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional. Surakarta: UNS.
Supinah & Agus D.W, 2008. Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/). Diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 09.00 WIB.
Syaiful Sagala. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Soewito.1993. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Dekdikbud Dirjen Dikti Proyek pembinaan Tenaga Kerja.
S. Nasution. 2006. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003
Yatim Rianto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC Surabaya
http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 21.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?eosr=on&q=Hakikat+Belajar+Matematika,diakses tanggal 18 Oktober2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?q=pengertian+pembelajaran&hl/frustanti.html , diakses tanggal 18 Oktober 2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?u=http/www.banjar-.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2009. Pukul 18.30 WIB

PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES

July 29, 2011 Add Comment

PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Pendekatan keterampilan proses pada pembelajaran sains lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh pengetahuan dan mengkomunikaskan hasilnya. Mukminan (2003:2) -Toko Buku Online - menyatakan bahwa pendekatan yang sekarang dikenal dengan keterampilan proses dan cara belajar siswa aktif (CBSA) masih belum banyak terwujud, serta pembelajaran kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan- kemampuan yang dimiliki oleh individu siswa. Dimyati dan Mudjiono (2002:138) Toko Buku Online memuat ulasan pendekatan keterampilan proses yang diambil dari pendapat Funk (1985) sebagai berikut:
(1) Pendekatan keterampilan proses dapat mengembangkan hakikat ilmu pengetahuan siswa. Siswa terdorong untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan baik karena lebih memahami fakta dan konsep ilmu pengetahuan;
(2) Pembelajaran melalui keterampilan proses akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya menceritakan, dan atau mendengarkan sejarah ilmu pengetahuan;
(3) Keterampilan proses dapat digunakan oleh siswa untuk belajar proses dan sekaligus produk ilmu pengetahuan. Pendekatan Keterampilan Proses sains memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara nyata bertindak sebagai seorang ilmuwan (Dimyati dan Mudjino, 2002:139).
Dari uraian di atas dapat diutarakan bahwa dengan penerapan pendekatan keterampilan proses menuntut adanya keterlibatan fisik dan mental-intelektual siswa. Hal ini dapat digunakan untuk melatih dan mengembangkan keterampilan intelektual atau kemampuan berfikir siswa. Selain itu juga mengembangkan sikap-sikap ilmiah dan kemampuan siswa untuk menemukan dan mengembangkan fakta, konsep, dan prinsip ilmu atau pengetahuan.

Selanjutnya dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari secara obyektif dan rasional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains merupakan kegiatan intelektual yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan dalam menyelesaikan masalah dan menghasilkan produk-produk sains. Keterampilan proses dalam pengajaran sains merupakan suatu model atau alternatif pembelajaran sains yang dapat melibatkan siswa dalam tingkah laku dan proses mental, seperti ilmuwan. Funk (1985) dalam Dimyati dan Mudjiono, (2002: 140) mengutarakan bahwa berbagai keterampilan proses dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: keterampilan proses dasar (basic skill) dan keterampilan terintegrasi (integarted skill). Keterampilan proses dasar meliputi kegiatan yang berhubungan dengan observasi, klasifikasi, pengukuran, komunikasi, prediksi, inferensi. Bila kita kaji lebih lanjut sebagai berikut.

1. Observasi

Melalui kegiatan mengamati, siswa belajar tentang dunia sekitar yang fantastis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan melibatkan indera penglihat, pembau, pengecap, peraba, pendengar. Informasi yang diperoleh itu, dapat menuntut interpretasi siswa tentang lingkungan dan menelitinya lebih lanjut. Kemampuan mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu serta hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan pancaindra. Dengan obsevasi, siswa mengumpulkan data tentang tanggapan-tanggapan terhadap objek yang diamati.

2. Klasifikasi

Sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar, lebih mudah dipelajari apabila dilakukan dengan cara menentukan berbagai jenis golongan. Menggolongkan dan mengamati persamaan, perbedaan dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Keterampilan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud.

3. Komunikasi

Manusia mulai belajar pada awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan dasar untuk memecahkan masalah. Keterampilan menyapaikan sesuatu secara lisan maupun tulisan termasuk komunikasi. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai penyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara dan visual (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143). Contoh membaca peta, tabel, garfik, bagan, lambang-lambang, diagaram, demontrasi visual.

4. Pengukuran

Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Keterampilan dalam menggunakan alat dalam memperoleh data dapat disebut pengukuran.


5. Prediksi

Predeksi merupakan keterampilan meramal yang akan terjadi, berdasarkan gejala yang ada. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan kita untuk mengenal pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati. Dimyati dan Mudjiono (2002: 144) menyatakan bahwa memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam pengetahuan.

6. Inferensi

Melakukan inferensi adalah menyimpulkan. Ini dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui. Keterampilan terintegrasi merupakan perpaduan dua kemampuan keterampilan proses dasar atau lebih. Keterampilan terintegrasi terdiri atas: mengidentifikasi variabel, tabulasi, grafik, diskripsi hubungan variabel, perolehan dan proses data, analisis penyelidikan, hipotesis ekperimen.

a. Identifikasi variable: Keterampilan mengenal ciri khas dari faktor yang ikut menentukan perubahan
b. Tabulasi : Keterampilan penyajian data dalam bentuk tabel, untuk mempermudah pembacaan hubungan antarkomponen (penyusunan data menurut lajur-lajur yang tersedia)
c. Grafik: Keterampilan penyajian dengan garis tentang turun naiknya sesuatu keadaan. d. Diskripsi hubungan variable: Keterampilan membuat sinopsis/pernyataan hubungan
faktor-faktor yang menentukan perubahan.
e. Perolehan dan proses data: Keterampilan melakukan langkah secara urut untuk meperoleh data.
f. Analisis penyelidikan: Keterampilan menguraikan pokok persoalan atas bagian- bagian dan terpecahkannya permasalahan berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip -prinsip dasar.
g. Hipotesis: Keterampilan merumuskan dugaan sementara.
h. Ekperimen: Keterampilan melakukan percobaan untuk membuktikan suatu teori/penjelasan berdasarkan pengamatan dan penalaran.

Keterampian proses seperti yang diutarakan oleh Funk merupakan keterampilan proses yang harus diaplikasikan pada pendidikan di sekolah oleh guru. Pembelajaran sains menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini bisa tercapai apabila dalam pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses baik keterampilan proses dasar maupun keterampilan proses terintegrasi (terpadu) seperti terungkap di atas.
Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan Pendekatan Keterampilan Proses ( PKP ) yang dilaksanakan di SD/MI adalah sebagai berikut :

a. Observasi dengan mengalami suatu peristiwa sendiri.
b. Prediksi denmgan menyampaikan Opini tentang peristiwa yang dialami.
c. Hipotesis : merumuskan dugaan sementara.
d.Melakukan Percobaan/Eksprimen tentang pernafasan menggunakan Model Pernafasan Manusia.
e. Perolehan dan proses data ; melakukan langkah demi langkah percobaan untuk memperoleh data.
f. Komunikasi : melaporkan hasil diskusi kelompok atau menyampaikan perolehan berupa fakta, prinsip-prinsip.


Jika Pendekatan Keterampilan Proses diterapkan ada beberapa keuntungan yang diperolehnya , antara lain sebagai berikut :

1.Siswa akan memperoleh pengertian yang tepat tentang hakekat pengetahuan.
2.Siswa memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang.
3.Siswa memperoleh kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengetahuan.