Bank Dunia (World Bank) menilai bahwa penyaluran dan transparansi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dilakukan oleh pemerintah kita dinilai buruk. Penilaian itu muncul berdasarkan data yang dihimpun Bank Dunia.
Education Sector Leader World Bank, Mae Chu Chang, mengatakan, berdasarkan hasil studi baseline BOS yang dilakukan Bank Dunia terungkap bahwa informasi dana BOS dan penggunaannya hanya diketahui sebagian kecil orang tua siswa. “Ternyata orang tua hanya mengetahuinya secara datar dari media, lingkungan sekitar dan sekolah. Sosialisasi BOS dari pemerintah dan sekolah masih sangat minim sekali,” terang Mae di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pada 9 Agustus 2010 lalu.
Menurutnya, ketiadaan pemahaman dari orang tua tentang dana BOS itu karena keterbatasan informasi, sehingga menyebabkan buruknya transparansi dan akuntabilitas BOS. “Namun bisa juga sebaliknya, rendahnya pengetahuan dan partisipasi orangtua disebabkan rendahnya transparansi dan akuntabilitas sekolah dalam mengelola BOS,” sambungnya.
Kesimpulan lain yang terungkap dari data Bank Dunia, adalah rendahnya frekuensi orangtua diundang ke sekolah untuk dialog mengenai dana BOS. Menurut Mae, terbatasnya papan pengumuman sekolah tentang pemakaian dana BOS juga turut menyebabkan penyaluran dana BOS tidak maksimal karena kurangnya pengawasan.
Padahal, lanjut Mae, sebenarnya orang tua mempunyai kepedulian yang tinggi pada sekolah, terutama pada kualitas sekolah. Bahkan Mae menyebut para orang tua murid memiliki minat besar membantu sekolah jika dana BOS tidak mencukupi. “Mereka mau berkontribusi. Ini adalah potensi yang harus diapresiasi oleh sekolah,” tambahnya.
Lebih jauh Mae menambahkan, untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas BOS, pemerintah harus segera meningkatkan partisipasi orang tua dalam perencanaan dan pengawasan BOS disekolah. “Selain itu, juga dibutuhkan kampanye informasi dana BOS langsung ke orangtua melalui jalur sekolah, media maupun komunitas masyarakat,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Bank Dunia dalam melakukan penelitian tentang penyaluran dana BOS ini mengambil 3.600 orang tua di 720 sekolah sebagai responden. Metode penelitiannya adalah system cluster dan multi stage random sampling. Responden sebagian besar berpendidikan SD, SMP dan SMA. “Pekerjaan responden mayoritas petani dan pekerja swasta dan mayoritas laki-laki,” papar Mae.
Dalam kesempatan sama, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengakui jika partisipasi orang tua dalam penggunaan maupun pengawasan dana BOS masih sangat rendah. Oleh karena itu, Kemendiknas akan mengajak orang tua wali murid untuk ikut serta dalam perencanaan penggunaan dana BOS sehingga tepat sasaran.
Demi mendongkrak partisipasi masyarakat, Kemendiknas telah menyediakan layanan pengaduan bebas pulsa di nomor 177. “Jika ada persoalan dilapangan laporkan saja ke nomor ini,” ujarnya.
Mantan menteri komunikasi dan informatika ini menambahkan, pada 2008 lalu terdapat ada 40,2 juta siswa yang telah merasakan manfaat BOS. “Jumlahnya sangat besar maka kami sangat mengharapkan peran aktif orang tua untuk mengawasinya,” ucapnya.
Masyarakat, lanjutnya, dalam berperan serta merencanakan dan mengawasi penggunaan BOS dapat bekerjasama dengan komite sekolah. Dikatakan pula, partisipasi yang diharapkan dari orang tua dalam penyaluran dana BOS mulai dari proses pendataan siswa, verifikasi jumlah siswa, sampai pengawasan penggunaan dana BOS di sekolah.
Nuh menjelaskan, dana BOS yang diberikan ke SD/SLB di kota sebesar Rp400.000/siswa/tahun dan SD di kabupaten sebesar Rp397.000/siswa/tahun. Kemudian BOS untuk SMP/SMPLB/SMPT di kota sebesar Rp575.000 dan untuk wilayah kabupaten per siswa pertahunnya mencapai Rp570.000.
Begitu pedulinya Mae Education Sector Leader World Bank, sama kualitas pendidikan kita ya ? Tapi kenapa kita tidak peduli dengan diri kita sendiri. Semuanya jawabannya selalu saja "diusahakan", usaha kalau tidak kelihatan hasilnnya juga termasuk kegiatan yang sisa-sia. Bener ga ? Pada Intinya transparasnsi Dana BOS tergantung pada Transparansi pengelolaan Dana oleh Aparatur Sekolah yang bersangkutan dengan masyarakat.
resouce : jawa pos national network
0 Komentar
Harap jangan berkomentar yang bersifat spam, yang berbau sara, kata-kata kotor, atau yang bersifat nada keras atau komentar Anda akan kami HAPUS.